Selasa, 07 Februari 2023 09:52 WIB

Kepercayaan "SAMAGAHA" Menurut Masyarakat Sunda Lama (Sisi Lain Dari Fenomena Gerhana Bulan Total)

Kamis, 27 Mei 2021 11:41:57

Oleh: Redaksi | 970 view

Oleh: Galih Witono, S.Pd  (Tenaga Pendidik, Pegiat Seni, dan Jurnalis di TribuanaNews)


TribuanaNews. - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui pers rilis di laman bmkg.go.id (21/5/ 2021), menjelaskan bahwa akan terjadi Gerhana Bulan Total atau yang dikenal dengan istilah Super Blood Moon pada tanggal 26 Mei 2021. Karena posisi Bulan saat terjadi gerhana berada di posisi terdekat dengan bumi (Perigee), maka Bulan akan terlihat lebih besar dari fase-fase purnama biasa.

Gerhana Bulan adalah peristiwa terhalanginya sinar Matahari oleh Bumi, sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan, dilihat dari Bumi. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya. Gerhana Bulan Total terjadi saat posisi Matahari-Bumi-Bulan sejajar. Hal ini terjadi saat Bulan berada di umbra Bumi, yang berakibat, saat puncak gerhana bulan total terjadi, Bulan akan terlihat berwarna merah (terkenal dengan istilah Blood Moon). sehingga sering disebut dengan Super Moon. 

Namun ada yang unik dari kepercayaan Masyarakat Sunda lama dalam memaknai fenomena gerhana (samagaha) ini sebagai warisan leluhur atau 'titinggal karuhun'. Warisan itu ada yang masih dijaga dan banyak juga yang sudah punah, misalnya kebiasaan yang dipakai secara turun temurun, seperti kebiasaan yang berkaitan dengan mitos atau dongeng samagaha. Seperti Fenomena ini dianggap sebagai suatu pertanda akan peristiwa yang akan terjadi atau kebiasaan masyarakat Sunda yang memukul tetabuhan masih dilakukan sekitar warsa 1960-an hingga 1970-an.

Dilansir Tirto, Mamet Sasmita menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut tidak menjadi penghalang bagi sebagian masyarakat lain yang hendak melakukan salat sunah gerhana.

Ia menambahkan mereka juga tidak saling melarang kebiasaannya masing-masing. Bahkan menurutnya, anak-anak Kyai pun ikut berlari-lari sambil memukul tetabuhan tersebut.

Dongeng Samagaha merupakan karya sastra yang hidup di masyarakat Sunda. Karya sastra sebagai tanda perlu dikaji secara semiotik karena ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda bahasa melalui representasi mempunyai mental/ruh yang diwujudkan melalui lisan atau yang diwakilinya. Semiotik itu adalah studi tentang sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi. Konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Tanda adalah segala sesuatu yang ada pada seseorang untuk menyatakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas. Tanda dapat berarti sesuatu bagi seseorang jika ini diperantarai oleh interpretasi.

Ada pun kepercayaan masyarakat Sunda terhadap Samagaha (gerhana) apabila dikaitkan dengan semiotik adalah seperti di bawah ini penuh dengan pendidikan karakter.

1.       Lamun samagaha dina bulan Muharam alamat Allah ta’ala nurunkeun balai. Urang salaku umat manusa kudu loba sidekah jeung du’a

2.       Samagaha dina bulan Safar, alamat kurang hujan, rarang paré. Dina taun éta sing hadé neneda.

3.       Samagaha dina bulan Mulud (Rabiul Awal), alamat loba nu gering nangtung, mahal pangan. Ahirna ngurangan sabab loba nu maot.

4.       Samagaha dina bulan Silih Mulud (Rabiul Akhir), alamat loba anu sugih pindah.

5.       Samagaha dina bulan Jumadil Awal, alamat loba désa meunang kahadéan. Pararatu padasukur, mulang bubuahan.

6.       Samagaha dina bulan Jumadil Ahir, alamat aya hujan sanget. Sapi, munding loba nu mati.

7.       Samagaha dina bulan Rajab, alamat loba musuh, loba pandita mati. Paraponggawa teu mupakat.

8.       Samagaha   dina   bulan Rewah,         alamat         ratu    pipisahan          jeung rayatna padamupakat, paré murah.

9.       Samagaha dina bulan Puasa (Ramadhan), alamat loba panyéréwédan.

10.     Samagaha dina bulan Sawal (Syawal), alamat loba kararaan, rayat pada susah kurang pangan mahal paré.

11.     Samagaha dina bulan Hapit, (Zulqodah) alamat loba pitnah ti menak jeung aya    lini angin gedé.

12.     Samagaha dina bulan Rayagung (Zulhijah), alamat loba hujan rarang paré.

Setelah ditelusuri mengenai mitos samagaha, ada beberapa hikmah yang bisa diambil. Salah satunya pada pendidikan karakter. Para leluhur orang Sunda membuat suatu palintangan (ilmu falak) bukan sekadar mitos tetapi ada maksudnya. Pendidikan karakter yang muncul dalam mitos samagaha diantaranya Filosofi silih asah, silih asih, silih asuh ini dapat disejajarkan dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Komentar Anda

BACA JUGA
Selasa, 17 Januari 2023
Rabu, 06 Juli 2022