Tribuananews, Mangunreja – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Tasikmalaya menggandeng Pimpinan Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PC PSNU) Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya dalam menggelar Seminar Kebangsaan. Kegiatan yang berlangsung di Aula Desa Mangunreja, Jumat (13/2/2026), itu mengangkat tema "Optimalisasi Peran Ormas Islam dalam Menjaga Kondusifitas Umat Beragama".
Seminar ini merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah daerah memperkuat sinergi dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam untuk memetakan potensi konflik serta memperkuat sistem deteksi dini di tingkat akar rumput.
Tasikmalaya: Barometer Politik Nasional
Mewakili penyelenggara, Aldyan Bopa Utama, S.Sos., mengungkapkan bahwa Kabupaten Tasikmalaya saat ini menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Wilayah ini dinilai sebagai "benteng utama politik" di Jawa Barat, bahkan menjadi satu-satunya daerah yang dikunjungi seluruh calon presiden pada periode sebelumnya. Terbaru, Wakil Presiden RI juga melakukan kunjungan di kawasan Cipasung.
"Tasikmalaya adalah kekuatan politik sekaligus simbol toleransi yang kuat. Karena fokus nasional tertuju ke sini, maka menjaga kondusivitas wilayah bukan lagi pilihan, melainkan keharusan," tegas Aldyan.
Ancaman Digital dan 'Sinyal Merah' Konflik
Analis Kewaspadaan dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Kabupaten Tasikmalaya, Addya Noor Hadiyan, S.IP., M.Si., memaparkan data sosiografis daerah. Dari total 1,9 juta penduduk, 98 persen di antaranya beragama Islam dengan karakter wilayah heterogen, mulai dari pesisir hingga pegunungan.
"Indeks Kerukunan Umat Beragama kita memang tinggi, namun dimensi 'kebersamaan aktif' masih rendah dibanding dimensi toleransi. Saat ini kita menghadapi karakter kerawanan baru, di mana konflik fisik bertransformasi ke ranah digital," ujar Addya.
Ia mencontohkan bagaimana potongan video ceramah yang viral atau isu nasional yang ditarik ke ranah lokal dapat memicu reaksi spontan tanpa koordinasi. Menurutnya, keterbatasan pemerintah dalam deteksi dini hanya bisa diatasi dengan peran aktif ormas sebagai "early detector" atau pendeteksi dini di lapangan.
Senada dengan itu, perwakilan Pagar Nusa, Asep Sufian Sya'roni, M.Ag., menyoroti tren peningkatan konflik berlabel agama. Data yang dipaparkannya menunjukkan kenaikan signifikan, dari 16 kasus pada tahun 2020 menjadi 29 kasus pada tahun 2021.
"Ini adalah sinyal merah. Homogenitas penduduk tidak menjamin nihil konflik jika politik identitas terus dipupuk dan dimobilisasi dalam setiap kontestasi," kata Asep.
Strategi Jalan Tengah (Tawassuth)
Menjawab tantangan tersebut, Pagar Nusa menawarkan empat pilar strategis. Pertama, penguatan moderasi beragama melalui dakwah moderat bagi kalangan pemuda. Kedua, deteksi dini dengan memanfaatkan jaringan kader pencak silat hingga tingkat desa. Ketiga, kemitraan sosial melalui kolaborasi aktif dengan aparat keamanan (Polres/Kodim) dan pemerintah daerah. Keempat, kontra disinformasi untuk melawan penyebaran hoaks di media sosial.
"Pendekatan tawassuth atau jalan tengah ini penting agar nilai-nilai agama tidak terjebak pada dua titik ekstrem: liberalisasi tanpa batas atau radikalisme dan intoleransi," imbuh Asep.
Dialog Kritis: Menangani Ormas Ekstrem
Seminar diwarnai diskusi hangat saat seorang peserta, Deni Sukron, mempertanyakan efektivitas Surat Keputusan Bersama (SKB) dalam meredam ormas yang dinilai radikal. Ia juga mengusulkan perlunya dialog dengan ormas-ormas ekstrem agar pembinaan tidak berjalan searah.
Menanggapi hal tersebut, pihak Bakesbangpol mengakui adanya batasan kewenangan di tingkat kabupaten. Addya menjelaskan bahwa pembinaan melalui seminar-seminar kebangsaan telah dilakukan sejak 2011, baik ke sekolah, ormas, maupun tokoh agama.
"Secara administratif, kewenangan menutup ormas berada di tangan pemerintah pusat dan gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. Tugas kami di daerah adalah membingkai akidah yang kuat ini dalam konteks bernegara, agar tidak terjadi gesekan horizontal," jelasnya.
Menuju Tasikmalaya yang Matang secara Sosial
Addya Noor Hadiyan menegaskan bahwa kondusifitas tidak lahir dengan sendirinya. "Kondusifitas tidak lahir dari kebetulan. Ia lahir dari komunikasi, koordinasi, dan kesadaran kolektif. Mari bersinergi menjaga Tasikmalaya sebagai contoh daerah religius yang kuat dalam persatuan," tutupnya.
Dengan kolaborasi ini, diharapkan Kabupaten Tasikmalaya tidak hanya dikenal sebagai daerah religius, tetapi juga matang secara sosial dalam mengelola keberagaman dan dinamika politik ke depan. (GW)