CIPATUJAH, Tribuananews – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Cipatujah menggelar serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT PGRI ke-80. Perayaan yang berlangsung dari Senin hingga Rabu (3-5 November 2025) ini diisi dengan berbagai perlombaan tradisional dan olahraga untuk mempererat tali silaturahmi antar para pendidik.
Ketua Panitia Pelaksana, Candra Maulana, S.Pd., M.Si., saat dikonfirmasi pada Rabu (5/11/2025) menuturkan, antusiasme peserta sangat tinggi. "Kegiatan ini bertujuan untuk merefresh semangat kolega sekaligus memupuk kebersamaan. Lomba yang kita gelar antara lain tarik tambang, bakiak, voli, tenis meja, bulutangkis, dan sepak bola, baik untuk kategori putra maupun putri," ujarnya.

Di balik kemeriahan perlombaan, Candra menyampaikan harapan yang lebih mendasar dan krusial bagi masa depan profesi guru di Indonesia. "Harapan ke depan, mudah-mudahan guru di seluruh Indonesia mendapatkan kesejahteraan yang layak. Kenyataan pahitnya, beberapa guru teman kita belum mendapatkan SK PPPK. Selain itu, kami juga berkomitmen untuk menjadikan guru yang kompeten di bidangnya masing-masing," tegas Candra.
Mengenal PGRI: Dari Masa Revolusi hingga Tantangan Kekinian
PGRI lahir dari kancah perjuangan kemerdekaan pada 25 November 1945 di Surakarta. Lahirnya PGRI tidak lepas dari semangat mempertahankan kemerdekaan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Organisasi ini konsisten memperjuangkan nasib guru dan memajukan pendidikan Indonesia, meski harus berhadapan dengan berbagai rezim.
Di usianya yang ke-80 tahun, PGRI dihadapkan pada tantangan yang kompleks dan multidimensi. Isu kesejahteraan, seperti yang disinggung Candra, masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pemberkasan dan penetapan Guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang belum merata dan berlarut-larut bagi banyak guru honorer adalah salah satu tantangan konkret yang kerap disuarakan.
Selain itu, PGRI juga dituntut untuk memimpin transformasi di era digital. Peningkatan kompetensi guru dalam menghadapi tantangan pendidikan abad 21, seperti pemanfaatan teknologi, penguatan pendidikan karakter, dan adaptasi terhadap kurikulum yang dinamis, menjadi agenda strategis yang tidak kalah penting. Tuntutan untuk mencetak guru yang tidak hanya sejahtera tetapi juga profesional dan relevan dengan zaman adalah misi utama PGRI masa kini.
Perayaan HUT PGRI ke-80 di tingkat akar rumput, seperti yang digelar di Cipatujah, menjadi penanda bahwa semangat perjuangan organisasi guru tertua di Indonesia ini masih membara. Di satu sisi, ia merayakan kebersamaan dan pencapaian, sementara di sisi lain, ia terus mengingatkan akan tanggung jawab besar yang masih harus dipikul dalam membenahi masa depan pendidikan dan nasib para pendidik di Tanah Air. (Iwa)