
Tribuana- Singaparna
Ikatan Muda Mudi Sentral IMAMIS menggelar pengajian dalam rangka memperingati Isra wal Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1442 H. Dengan menghadirkan penceramah Ustad Deni Sukron, SE. di Masjid Al - Ikhlas Kampung Cikoropok RT. 20 RW. 02 Desa Cikunten Kec. Singaparna, Senin (08/03/2021).
Meskipun dalam keadaan hujan, warga tetap antusias menghadiri acara peringatan Isro Mi'raj ini. Turut hadir pada kesempatan tersebut Pengurus dan anggota IMAMIS, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama juga Ketua RT, RW dan warga setempat.
Dalam sambutannya Agus Davit sebagai ketua IMAMIS mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota IMAMIS dan mustami yang telah hadir dan mendukung kegiatan tersebut sekaligus memaparkan makna Isra’ Mi’raj yang merupakan perjalanan spiritualitas terpenting yang menjadi salah satu tonggak sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban, keadilan dan kemakmuran bagi seluruh umatnya.
"Proyeksi awal dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah menciptakan jalan pencerahan untuk membebaskan diri dari sisi gelap pengamalan dan sejarah kemanusiaan. Peringatan Isra Mi'raj ini bisa dikatakan ulang tahunnya salat," paparnya.
Dalam isi ceramahnya Deni Sukron. SE, memaparkan bahwa Salat lima waktu yang diperintahkan Allah SWT dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tidak semata-mata ditafsirkan sebagai kewajiban yang sifatnya ritual semata. Melainkan wahana untuk menegakkan kebenaran dan merobohkan bangunan-bangunan kemungkaran di muka bumi. ada banyak hal yang dapat kita jadikan motivasi untuk lebih bersungguh-sungguh memaknai peristiwa agung ini sebagai spirit penyucian hati. ini bermakna bahwa setiap manusia tidak akan pernah lepas dari kekhilafan. Oleh karena itu penting untuk mensucikan hati.
"Telah diriwayatkan, bahwa sebelum Nabi Muhammad dibawa Malaikat Jibril, beliau dibaringkan, kemudian dibelah dadanya. Dan meskipun hati Rasululloh sudah bersih tapi tetap dibersihkan, kita juga bisa maknainya bahwa ketika kita solat simpan dulu kebencian, harta, hutang, jabatan, semua yang ada di hati kita ketika kita salat, " sahutnya.
Beliau juga menceritakan kisah yang pernah berlaku di zaman Khalifah Abu Bakar As-Sidiq terhadap seorang sahabat yang meninggal dunia. Setelah dimandikan dan dikafankan, lalu diletakkan di satu sudut rumah untuk disolatkan. Semasa solat hendak dimulai, tiba-tiba mayat itu bergerak-gerak. Tampillah seorang daripada mereka untuk menguraikan ikatan kafan karena menyangka mayat itu masih hidup. Tatkala kafan itu terbuka, alangkah terperanjatnya mereka karena mayat itu dililit dan digigit oleh seekor ular. Lalu mereka mengambil kayu untuk memukul ular tersebut.
Sekali lagi mereka terkejut kerana ular itu mengucap dua kalimah syahadat serta berkata : “Apakah sebabnya kamu hendak membunuhku. Aku tidak bersalah dan tidak pula menyakiti kamu. Aku hanya menjalankan perintah Allah menyiksa mayat ini sehingga Hari Akhirat”.
Para hadirin bertanya : “Apakah yang menyebabkan mayat ini disiksa?” Ular tersebut menjawab : “Mayat ini selama hidupnya telah melakukan tiga kesalahan yaitu :
Pertama : Ia mendengar azan tetapi tidak diindahkan malah tidak pula mengerjakan solat.
Kedua : Ia tidak mengeluarkan zakat hartanya.
Ketiga : Ia tidak mau mendengar nasihat yang baik-baik dari para alim ulama’. Itulah yang menyebabkannya disiksa sedemikian rupa.”
Malaikat Jibril as, telah menemui Nabi Muhammad SAW, dan berkata:
“Ya Muhammad.. Tidaklah diterima bagi orang yang meninggalkan sholat yaitu: Puasanya, Shodaqahnya, Zakatnya, Hajinya dan Amal baiknya." (Galih Witono)