Tribuananews, Tasikmalaya – Pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menekankan bahwa komunikasi efektif merupakan fondasi utama dalam membangun keharmonisan keluarga. Hal ini disampaikan dalam kegiatan Train of Trainer (ToT) Fasilitator yang digelar oleh Kantor Puspaga Bundaku Tasikmalaya, di Desa Cikunten, Singaparna, pada 14-15 Oktober 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat "Dosen Pulang Kampung" (Dospulkam) Institut Pertanian Bogor, hasil kolaborasi antara Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim IPB, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB, serta Puspaga Bundaku Tasikmalaya. Program ini berfokus pada penguatan kapasitas keluarga yang menikah di usia anak yang dipimpin langsung oleh Dr. Tin Herawati SP MSi.
An’an Yuliati, S.IP, Ketua Harian Puspaga Bundaku Kabupaten Tasikmalaya, menjelaskan tujuan strategis dari pelatihan ini.
“Pelatihan ini penting untuk mempersiapkan fasilitator yang nantinya dapat memberikan pendampingan kepada keluarga penyintas perkawinan anak. Sebanyak 10 fasilitator akan membina 50 keluarga,” ujarnya. (14/10/2025).
Ia juga menyoroti pencapaian positif dalam penurunan angka pernikahan anak. “Meski angka pernikahan anak di Kabupaten Tasikmalaya sempat menjadi yang tertinggi di Jawa Barat pada 2023, program-program yang diluncurkan berhasil menurunkan angkanya. Kabupaten Tasikmalaya kini berada di peringkat keempat,” tambah An’an, seraya menyebut keberhasilan ini berkat kolaborasi kader, masyarakat, tokoh lokal, dan pemerintah.
Sebagai narasumber, Dr. Susri Adeni, S.Sos., MA, memaparkan beberapa prinsip kunci komunikasi efektif dalam keluarga. Pertama, tentang mendengarkan secara aktif dan empatik.
“Keterampilan ini tidak hanya sekadar mendengar, tetapi juga melibatkan perhatian penuh, merasakan, dan berusaha memahami perasaan serta perspektif anggota keluarga,” jelasnya.
Kedua, Dr. Susri menganjurkan penggunaan "Saya Statement". “Disarankan untuk menyampaikan keluhan dengan memulai kalimat menggunakan kata 'Saya'. Misalnya, mengganti 'Kamu selalu terlambat' dengan 'Saya merasa khawatir ketika jam makan malam tidak tepat waktu.' Pendekatan ini lebih positif dan tidak membuat lawan bicara menjadi defensif,” paparnya.
Ketiga, ia menekankan pentingnya menyediakan waktu berkualitas. “Di tengah kesibukan dan distraksi gawai, menyengajakan waktu untuk berkumpul dan bercengkerama merupakan komponen krusial untuk mempererat ikatan dan menciptakan keharmonisan,” tegas Dr. Susri.
Dijelaskannya, kegagalan dalam berkomunikasi dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan, seperti ketegangan di rumah dan konflik antar pasangan.
Program "Dosen Pulang Kampung" IPB merupakan inisiatif nasional yang mencakup berbagai disiplin ilmu untuk memberikan solusi aplikatif bagi permasalahan di masyarakat. Melalui pelatihan ini, kader masyarakat diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang menyebarluaskan pemahaman mengenai pentingnya komunikasi keluarga yang sehat. (GW)