Tribuananews, Singaparna – SDN 6 Singaparna yang berdiri sejak 1952 terus berkomitmen mencetak generasi berprestasi meski dengan sejumlah keterbatasan sarana. Sekolah yang terletak di Kompleks Eks Kewedanaan Singaparna ini menjadikan program olahraga dan akademik sebagai unggulan serta daya tarik utama bagi masyarakat.
Kepala Sekolah SDN 6 Singaparna, Ety Setyawati, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kepercayaan orang tua menitipkan anaknya di sekolah tersebut tidak lepas dari dua faktor. “Akses ke sekolah yang mudah karena berada di pusat kota dan prestasi anak-anak kami di berbagai lomba menjadi alasan utama. Orang tua merasa nyaman dan percaya karena sekolah ini kerap meraih penghargaan,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (26/8/2025).

Sekolah dengan 337 siswa yang terbagi dalam 12 rombongan belajar (rombel) ini memang memiliki catatan prestasi membanggakan, khususnya di bidang olahraga. Beberapa di antaranya adalah juara bulu tangkis tingkat kabupaten dan sepak bola tingkat kecamatan. Untuk mendukung bakat siswa, sekolah menyelenggarakan tujuh ekstrakurikuler, yaitu Bola Voli, Sepak Bola, Silat, Pramuka, dan tiga lainnya.
Visi sekolah adalah “Terwujudnya Peserta Didik yang Ceria, Berprestasi, Terampil, dan Mandiri, Berlandaskan Imtak dan Berwawasan IPTEK.” Visi ini diwujudkan melalui misi mengoptimalkan proses belajar mengajar dan meningkatkan amalan agama.
Tantangan dan Dukungan
Di balik sejumlah prestasi, sekolah negeri ini menghadapi beberapa tantangan. Jumlah ruangan yang terbatas, yaitu hanya 6 ruang kelas, 1 kantor, dan 1 perpustakaan, tanpa laboratorium, menjadi kendala. Selain itu, bantuan terakhir dari pemerintah diterima pada 2011 silam.
Dalam hal teknologi, meski telah memiliki listrik dan internet, kualitas sinyal masih menjadi kendala utama dalam mengakses Platform Merdeka Mengajar. “Manfaat platformnya sangat memudahkan kegiatan pembelajaran. Kendalanya hanya pada gangguan sinyal.
Seluruh guru yang berjumlah 17 orang (10 ASN dan 7 non-ASN) telah mengakses platform tersebut. Namun, hanya sebagian kecil yang telah mengikuti program Calon Guru Penggerak (CGP). Pembinaan dari dinas pendidikan juga hanya dilakukan setahun sekali.
Dukungan untuk Siswa
Sekolah mengakui bahwa separuh dari total siswanya, yakni 150 anak, telah menerima Program Indonesia Pintar (PIP). Masih ada 150 siswa lainnya yang belum mendapatkan bantuan tersebut. Mayoritas siswa mengakses sekolah dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan pribadi dan umum.
Dengan segala kelebihan dan kekurangan, SDN 6 Singaparna terus berupaya memberikan yang terbaik. Kepercayaan masyarakat dan prestasi yang telah diraih menjadi motivasi untuk terus berkembang memajukan pendidikan di daerahnya. (Aska)